Bahaya Penyakit Campak Gejala, Dan Penyebabnya

Juni 08, 2017

Apa Penyakit Campak Itu?

Penyakit campak atau disebut juga dengan rubeola adalah infeksi yang disebabkan oleh virus yang tumbuh di sel-sel yang melapisi tenggorokan dan paru-paru. Campak disebabkan oleh virus dalam keluarga paramyxovirus. Virus tersebut menginfeksi saluran pernapasan, kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
Bahaya Penyakit Campak Gejala, Dan Penyebabnya

Cara Penularan Virus Campak

Penyakit campak adalah salah saatu ke dalam penyakit yang tergolong sangat menular. Virus campak hidup di lendir hidung dan tenggorokan. Penyakit campak dapat menyebar melalui batuk atau bersin dari seseorang yang terinfeksi campak. Virus tetap aktif dan menular lewat udara atau pada permukaan yang terinfeksi hingga 2 jam. Bahkan saking menularnya, jika ada salah seorang yang terinfeksi virus campak tapi belum mendapatkan tanda-tanda atau gejala campak, kemudian orang tersebut bersin maka orang yang berada di sekelilingnya beresiko besar tertular campak.

Gejala Campak Tanda dan gejala

Orang yang terinfeksi campak akan mengalami gejala campak setelah kurang lebih 2 minggu dari awal terinfeksi. Adapun gejala awal yang sering ditemui pada penderita campak adalah:
  • Demam, flu, batuk, dan sakit tenggorokan
  • Hidung meler
  • Mata memerah dan berair
  • Mata peka terhadap cahaya
  • Terdapat ruam di wajah dan leher bagian atas dan menyebar ke bagian tubuh lainnya
  • Benjolan putih mungil di mulut
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Diare

Siapa Yang Berisiko Tinggi Terserang Penyakit Campak?

  • Anak-anak yang tidak divaksinasi
  • Wanita hamil yang tidak divaksinasi juga berisiko.
  • Orang yang memiliki sistem imunitas tubuh yang lemah.

Waspadai Komplikasi Penyakit Campak

Penyakit campak menjadi salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak-anak di seluruh dunia. Walaupun telah ditemukan vaksin untuk mengatasi penyakit campak, akan tetapi Sekitar 134.200 orang di dunia meninggal karena campak pada tahun. Hal ini terjadi kebanyakan pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. 
Kebanyakan kasus kematian disebabkan oleh komplikasi dari penyakit campak. Terutama pada anak-anak dan wanita hamil yang lebih beresiko. Selain itu ada beberapa komplikasi yang harus diwaspadai jika campak telat diobati, diantaranya:
  • Mengalami kebutaan
  • Ensefalitis (infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak).
  • Diare berat dan dehidrasi
  • Infeksi pada telinga
  • Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
  • Paru-paru basah (Pneumonia)
  • kematian, terutama di kalangan anak-anak yang kekurangan gizi.

Cara Perawatan Dan Pencegahan Penyakit Campak

Vaksinasi campak rutin untuk anak-anak, dikombinasikan dengan kampanye imunisasi massal di negara-negara dengan tingkat kasus dan kematian tinggi, merupakan strategi kesehatan masyarakat kunci untuk mengurangi kematian akibat campak global. Berikut ada beberapa cara perawatan penyakit campak yang dapat dilakukan di rumah.
  • Banyak beristirahat
  • Memperbanyak minum air putih
  • Jangan memberikan obat aspirin
  • Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A atau suplemen vitamin A
  • Mengkonsumsi antibiotik
  • Mengkonsumsi obat herbal campak

Kasus Penyakit Campak Di Indonesia

Sampai saat ini indonesia belum bebas dari penyakit campak. Data pada 2011 menunjukan, sebanyak 11.704 kasus penyakit campak telah terjadi. Meski indonesia berhasil menurunkan kematian sebesar 90% akibat campak pada 2010 dibandingkan 2000, pemerintah saat ini terus berusaha menekan angka tersebut lebih jauh.
Kepala badan penelitian pengembangan kesehatan (balitbangkes), kementrian kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa perubahan iklim mungkin saja memengaruhi kondisi virus. Namun, perubahan tersebut juga lebih memengaruhi kondisi anak, terutama balita. Oleh karena itu, saat terjangkit campak, kemampuan untuk mengobati diri sendiri menjadi menurun atau rentan terhadap penyakit,
tentang Tjandra.
Untuk mengantisipasi peredaran penyakit campak di Indonesia, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus terus digalakkan. Contohnya, mencuci tangan setelah memegang hidung atau mulut serta menutup hidung dan mulut pada saat bersin ataupun batuk. Selain itu, pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif dapat mengurangi risiko terkena campak.
Berikan imunisasi pada (anak) usia sembilan bulan dan memberikan dosis kedua pada saat Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) kepada anak kelas satu SD (sekolah dasar) atau setingkatnya, kata Tjandra.
Pemberian imunisasi tambahan, menurut Tjandra, diperlukan untuk memberikan kesempatan kedua bagi tubuh anak agar mampu membangun sistem imunitas tubuhnya terhadap campak. Hal ini disertai pemantauan kasus di puskesmas, rumah sakit, dan masyarakat.
Sumber:
http://infoimunisasi.com/news/campak-masih-mengancam-dunia/






Previous
Next Post »
0 Komentar